Postingan

Yang Terarsip

Hembus angin sore itu, membuka jalan menuju sendu.
Membekukan semua rasa, yang telah tercipta dalam dada.
Tataplah angin, yang bertiup dengan yakin.
Bukan meratap nasib, yang seharusnya sudah menjadi arsip.
Biarlah angin membawa sepucuk do'a untuknya, yang hanya terdengar oleh-Nya.


- oxwazz - 20/09/2017

Cermin

Kenapa memilih pasir sedang gula banyak berserakan?
Sungguh banyak garis yang terarsir tapi kenapa yang terlihat hanya coretan berantakan?

Tidakkah kau pilih yang baik sedang yang buruk kau buang?
Tidakkah kau perbaiki yang buruk supaya itu tidak terulang?

Salahkah aku yang sedang berusaha?
Benarkah itu bila aku hanya diam saja?
Bila usahaku adalah kesalahan bagimu, lalu aku bisa apa?

Wahai cermin, benarkan aku jika itu salah. Salahkan aku bila aku tak mau bercermin padamu.
Wahai cermin, apakah kamu mendengarku?

- oxwazz - 10/06/2017

Tawa Duka

Tersudut didalam keramaian.
Hanya terdengar suara-suara bersahutan.
Saling melontar lelucon-lelucon bahagia.
Yang seolah mengajak hanyut dalam alunan canda.
Tapi apa daya aku tak bisa.
Hanya diam terikat bersama lamunan tawa.

- oxwazz - 06/06/2017

Hilang

Malam, engkau begitu ceria sampai kau tak hadirkan cahaya. Engkau begitu bahagia hingga kau tak datangkan tawa. Engkau begitu hangat, hangat bagai salju yang entah itu datangnya darimana. Begitu sunyi, sepi hingga kau tak tahu keributan apa yang dibuatnya. Malam, sungguh aku takut, takut engkau lupa bagaimana caramu menghadirkannya.

- oxwazz - 05/06/2017

Api

takkan ada kertas bila tak ada pohon yang ditebas. tak mungkin ada api yang berkobar bila tak ada satupun yang terbakar. sungguh, aku kagum kepada pohon yang bersedia gugur demi menyediakan kebutuhan seluruh manusia. sungguh, aku takjub kepada api yang rela terbakar untuk menerangi gelap dan dinginnya malam. mungkin, aku tak bisa menjadi pohon atau api yang rela dicabik atau bersedia hancur oleh dirinya sendiri. tapi aku pasti berkorban, walau hanya setitik harapan yang mungkin bisa kuperjuangkan.

- oxwazz - 04/06/2017

Salahkah?

Dering malam itu memecahkan kesunyian saat semua orang sibuk dengan segala rutinitasnya. Tak ada yang menghiraukan. Menghilang, seolah tak ada yang peduli akan kebisingan yang dibuatnya. Malam itu, seakan aku melihat sesosok malaikat bertanduk yang ingin merebut jiwa ini dengan kasar, tanpa belas kasih. Seolah tak percaya, kubenamkan tangan ini dengan rasa yang menyayat hati, didasar lautan merah yang ia tabur dengan sejuta misteri. Perih yang ku raih, tanpa tahu apa yang kuperbuat, sampai ia mampu menancapkan panah api tepat di dasar hati ini.

Dingin malam itu, seperti jutaan tombak yang ingin menghujam seluruh rasa sakit yang hinggap di raga, tanpa meninggalkan sedikitpun penyesalan. Perjalanan pulang yang biasanya kusambut dengan riang, kini pun tlah hilang dan tak lagi datang, dengan setitik harapan yang telah terbuang. Di malam ini, tiba-tiba aku teringat, di atas aspal inilah pertama kali ku bertemu dengannya, memegang janji-janji, untuk tidak saling menyakiti, seperti sepasang k…

Harapan

T'lah lama ku percayai mu Tempati ruang dalam diriku
Senyum manis dan lugu itu Membuat jiwa ingin mengadu
Didekatmu saja aku tak mampu Ungkap rasa ku yang menggebu
Ingin hati mengucap rindu Yang tak mungkin terbalas dari bibirmu
- oxwazz -